Malam itu listrik di kampung kami mati. Duduk di teras dengan lilin, HP masih nyala karena sinyal lumayan. Tiba-tiba grup WhatsApp RT ramai: katanya ada bantuan sembako dari pemerintah yang harus diambil malam itu juga, bawa KTP, jangan sampai kehabisan. Dalam lima menit, tiga tetangga sudah siap-siap naik motor. Padahal jam sebelas malam. Aku yang kebetulan masih melek langsung mikir, ini kok aneh. Bantuan kok diambil tengah malam?
Untung sebelum semua orang berangkat, Pak RT menelepon kantor kecamatan. Jawabannya: tidak ada program itu. Kabar itu ternyata sudah muter dari grup lain, dari kota sebelah, dan entah bagaimana nyasar ke kampung kami. Satu tetangga sempat kesal karena sudah siap-siap. Tapi ya, daripada naik motor tengah malam demi sembako yang tidak ada.
Kejadian itu bikin aku kepikiran. Selama ini aku sering jadi orang yang pertama share berita di grup keluarga. Berita apa saja. Yang penting cepat, biar dianggap update. Ternyata kebiasaan itu nggak sesederhana yang aku kira.
Baca juga: Apel Gabungan ASN Yapen: Sekda Ingatkan Disiplin dan Tindak Lanjut BPK
Awalnya Cuma Iseng, Lama-lama Jadi Tanggung Jawab
Sejak kejadian sembako palsu itu, aku mulai sering ditanya tetangga. "Ini berita beneran nggak?" atau "Coba cek dulu, kamu kan biasa pegang HP." Anehnya, pertanyaan-pertanyaan itu bikin aku sadar satu hal: di kampung kecil, orang yang paling sering share berita itu diam-diam dianggap juru kabar. Mau atau tidak mau, apa yang aku kirim dianggap benar sampai terbukti salah.
Di kota besar, berita bohong mungkin cuma lewat begitu saja di antara ribuan informasi lain. Di desa, satu kabar bisa jadi bahan obrolan warung sampai seminggu. Kalau kabarnya salah, yang kena getah bukan cuma aku, tapi juga tetangga yang percaya. Ada yang sampai bertengkar gara-gara kabar tanah warisan yang ternyata hoaks. Serius, gara-gara satu pesan diteruskan.
Makanya aku mulai belajar memilah. Bukan belajar yang ribet-ribet, kok. Cukup beberapa kebiasaan kecil yang bisa dilakukan siapa saja, bahkan yang HP-nya cuma dipakai buat WhatsApp dan Facebook.
Cara Sederhana yang Aku Pakai Sebelum Share Kabar
Pertama, aku selalu tanya dalam hati: siapa yang bilang? Kalau berita itu cuma tulisan "kata orang" atau "menurut info", langsung aku tahan. Berita yang jelas biasanya menyebut sumbernya, entah itu nama instansi, nama orang, atau setidaknya media yang jelas alamatnya. Kalau sumbernya cuma "grup sebelah", ya sudah, jangan diteruskan dulu.
Kedua, aku cek tanggalnya. Ini yang paling sering bikin orang ketipu. Banyak berita lama yang didaur ulang, lalu disebar seolah baru terjadi. Aku pernah hampir share pengumuman bantuan yang ternyata dari tiga tahun lalu. Untung sebelum kirim, aku scroll ke bawah dan lihat tahunnya. Malu sendiri rasanya.
Ketiga, dan ini yang paling penting: kalau kabarnya bikin panik atau bikin orang buru-buru, justru itu tanda paling kuat buat curiga. Kabar benar biasanya nggak menuntut kita bertindak dalam hitungan menit. Kata-kata seperti "sebarkan sebelum dihapus" atau "buruan, nanti kehabisan" itu justru lampu merah, bukan lampu hijau.
Kabar yang benar tidak takut ditanya. Kabar yang takut ditanya biasanya memang ada yang disembunyikan.
Selain tiga hal itu, aku juga mulai rajin tanya langsung ke sumber yang bisa dijangkau. Di kampung, ini justru kelebihan kita. Mau tahu soal bantuan? Tanya ke kepala dusun. Mau tahu soal harga pupuk? Tanya ke koperasi. Mau tahu soal sekolah? Tanya ke guru yang kenal kita. Di kota, orang susah dapat jawaban langsung begini. Di desa, kita tinggal jalan seratus meter.
Soal Grup WhatsApp yang Bikin Pusing
Nah, satu lagi yang aku pelajari: nggak semua grup harus diikuti dengan intensitas yang sama. Grup RT, grup pengajian, grup arisan, grup alumni, semuanya campur jadi satu di HP. Aku sempat pusing sendiri. Sekarang aku pilih beberapa grup yang benar-benar penting, sisanya aku bisukan. Bukan karena sombong, tapi karena kepala ini nggak sanggup menampung semua kabar sekaligus.
Dan satu kebiasaan kecil yang menurutku paling berdampak: kalau aku ragu, aku tanya satu orang dulu sebelum share. Biasanya aku tanya istri atau tetangga yang kerjanya di kantor desa. Cukup satu orang yang skeptis, kadang cukup buat menyelamatkan satu grup dari kepanikan yang nggak perlu.
Kenapa Warga Kampung Justru Bisa Lebih Cermat
Ada satu hal yang bikin aku agak optimis. Di kampung, kita kenal orangnya. Kalau ada kabar aneh, kita tahu siapa yang biasanya suka melebih-lebihkan cerita. Kita juga tahu siapa yang kerjanya memang berhubungan dengan informasi resmi. Modal sosial ini yang bikin kita sebenarnya lebih susah ditipu, asal mau pakai.
Bedanya, di kota orang bisa sembunyi di balik akun anonim. Di sini, kalau kamu nyebar kabar bohong, besok pagi semua orang sudah tahu. Itu semacam pengaman alami yang menurutku sayang kalau nggak dimanfaatkan. Jadi bukan soal teknologi canggih atau aplikasi pemeriksa fakta yang ribet. Kadang cukup dengan saling tanya dan saling ingatkan.
Aku sendiri sekarang nggak kapok jadi orang yang suka share berita. Cuma caranya yang berubah. Kalau dulu asal cepat, sekarang asal benar dulu. Kalau dulu bangga jadi yang pertama tahu, sekarang lebih bangga kalau yang aku sebarkan nggak bikin tetangga rugi.
Jadi kalau kamu di kampung atau kota kecil dan sering jadi orang yang pertama share kabar di grup, mungkin kamu juga diam-diam jadi juru kabar seperti aku. Nggak apa-apa. Cuma ingat, satu jempol kita bisa bikin satu kampung sibuk semalaman. Mending sibuk karena kabar benar, daripada sibuk karena kabar yang ternyata cuma bikin repot.